Di Antara Rumah dan Dunia: Perjalanan Mencari Utuh
Di rumah, aku hidup.
Aku bisa tertawa tanpa memikirkan apakah aku terdengar cerdas.
Aku bisa diam tanpa takut dianggap tidak kompeten.
Aku merasa cukup hanya dengan menjadi istri, menemani, melayani, berbagi cerita kecil tentang hari yang sederhana dan memberikan dukung untuk suamiku.
Di rumah, aku tidak merasa harus membuktikan apa pun.
Aku dicintai tanpa performa.
Di rumah, aku diapresiasi dan diterima eksitensinya untuk setiap effort dan usaha kecil yang aku lakukan.
Tapi setiap kali aku melangkah keluar dan masuk ke dunia luar, rasanya berbeda, rumah dan dunia luar seperti sebuah kontradiktif yang nyata, rasa aman, rasa tenang itu berubah menjadi ketakutan.
Aku tetap mencoba bekerja dan berinteraksi dengan baik. Target tercapai. Gaji masuk. Bahkan secara finansial, hidupku stabil. Likuiditas yang ada sebenarnya cukup untuk beberapa tahun ke depan bahkan jika aku dan suamiku zero income.
Namun entah kenapa, di luar rumah aku sering merasa seperti mengecil.
Aku berbicara, tapi tidak selalu merasa didengar.
Aku berkontribusi, tapi tidak selalu merasa berarti.
Kadang aku pulang bukan karena tubuhku lelah, tapi karena hatiku terasa kosong.
Beberapa kali aku berpikir: mungkin aku hanya perlu rehat.
Mungkin semua ini akan selesai kalau aku keluar dari dunia luar dan hanya berdiam diri mencoba produktif dari rumah.
Tapi ketika aku benar-benar jujur pada diri sendiri, pertanyaannya berubah.
Apakah aku ingin berhenti?
Atau sebenarnya aku hanya ingin merasa diakui?
Karena jika dipikir lagi, pekerjaannya tidak selalu berat.
Yang menyakitkan adalah rasa tidak terlihat.
Dan aku takut, jika aku keluar tanpa menyelesaikan rasa itu, aku hanya akan membawa luka yang sama ke ruang yang berbeda.
Di sisi lain, aku memang sedang merintis sesuatu.
Aku sedang membangun bisnis.
Pelan. Tidak impulsif.
Tapi dengan kesadaran penuh bahwa aku ingin mempercepat langkah menuju financial freedom.
Aku ingin suatu hari bekerja karena pilihan, bukan karena kewajiban.
Aku ingin punya kendali atas waktuku.
Aku ingin hidup dengan ritme yang lebih tenang.
Ada rasa berbeda ketika mengerjakan bisnisku sendiri.
Lebih hidup. Lebih bermakna. Lebih “aku”, ada rasa seperti aku menemukan diriku yang sebenernya, diriku yang hanya hidup di rumah.
Namun di tengah semua itu, muncul kesadaran yang cukup menampar:
Financial freedom tidak otomatis menyembuhkan rasa tidak percaya diri.
Uang tidak otomatis membuat kita merasa cukup.
Keluar dari sistem tidak otomatis membuat kita merasa utuh.
Kalau akar masalahnya adalah kebutuhan untuk diakui, maka di mana pun aku berada, aku bisa tetap merasa kosong.
Dan ada satu pikiran yang kadang datang diam-diam.
Bagaimana kalau sebenarnya aku memang hanya cocok di rumah? Ga semua wanita diciptakan dan ditakdirkan untuk menjadi wanita hebat yang berdaya dan berkarir mentereng kan? Sebenernya ini pun bukan hanya tentang pekerjaan, bahkan ketika berteman, berinteraksi pun aku merasa tertawa, haha hihi tapi banyak kebutuhan dan hal yang terjadi tidak sesuai ekspektasiku, atau ada yang menyentil hati mungilku sehingga terus tergores. Akupun sebenernya sering merasa kosong di rumah.
Apa rumahku terlalu sempurna? Semua yang ku inginkan ada, semua yang kubayangkan terjadi lebih dari ekspektasiku, He treats me like a princess. Bagaimana kalau aku memang lebih pas menjadi istri yang melayani suami, mengurus rumah, hidup sederhana tanpa ambisi di luar?
Pikiran itu terasa menenangkan.
Karena di rumah aku merasa berguna.
Aku merasa cukup.
Aku merasa tidak perlu bersaing.
Tapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih jujur:
Apakah aku ingin di rumah karena itu panggilanku?
Atau karena itu zona aman?
Apakah aku memilih rumah karena cinta?
Atau karena aku takut merasa kecil di dunia luar?
Aku tidak pernah meremehkan peran sebagai istri.
Justru di sanalah aku merasa paling hidup.
Namun aku juga tahu, ada sisi dalam diriku yang ingin berkembang.
Ingin membangun sesuatu.
Ingin berdampak lebih luas.
Mungkin inilah yang membuatku lelah.
Bukan karena aku tidak bersyukur.
Bukan karena aku tidak mencintai peranku.
Tapi karena aku sedang belajar menemukan titik temu antara menjadi istri yang utuh dan menjadi individu yang tetap bertumbuh.
Aku sering membayangkan hari ketika financial freedom benar-benar tercapai.
Ketika aku tidak lagi harus hadir di ruang rapat yang membuatku merasa kecil.
Tapi ada ketakutan yang mengikuti bayangan itu.
Bagaimana kalau setelah semuanya tercapai…
aku tetap merasa kosong?
Bagaimana kalau masalahnya bukan pada dunia luar,
bukan pada sistem,
bukan pada pekerjaan —
tapi pada diriku yang belum benar-benar berdamai?
Bagaimana kalau selama ini aku berharap kebebasan finansial bisa menyelesaikan luka yang sebenarnya batin?
Kadang aku takut,
jangan-jangan yang aku sebut “ingin bebas”
sebenarnya adalah keinginan untuk lari.
Tapi di saat yang sama, aku tahu membangun bisnis, menata keuangan, merancang jalan keluar — itu bukan pelarian. Itu ikhtiar.
Mungkin dua hal ini berjalan bersamaan.
Aku sedang membangun kebebasan finansial.
Dan pada waktu yang sama, aku sedang membangun keberanian untuk hadir sebagai diriku sendiri.
Aku belum tahu akhirnya akan seperti apa.
Aku belum tahu apakah aku akan tetap di berada di dunia luar ini beberapa tahun lagi atau benar-benar melangkah keluar dan kembali ke dalam ke tempat ternyamanku.
Yang aku tahu, perjalanan ini belum selesai.
Dan mungkin pertanyaannya bukan lagi,
“aku cocoknya di rumah atau di dunia luar?”
Tapi,
“Bisakah aku menjadi diriku yang utuh, dimana pun aku berdiri?”
Aku belum punya jawabannya.
Dan mungkin, di sinilah perjalananku sebenarnya dimulai.
Komentar
Posting Komentar