Postingan

Menampilkan postingan dengan label Lifejourney

Di Antara Rumah dan Dunia: Perjalanan Mencari Utuh

Di rumah, aku hidup. Aku bisa tertawa tanpa memikirkan apakah aku terdengar cerdas. Aku bisa diam tanpa takut dianggap tidak kompeten. Aku merasa cukup hanya dengan menjadi istri, menemani, melayani, berbagi cerita kecil tentang hari yang sederhana dan memberikan dukung untuk suamiku. Di rumah, aku tidak merasa harus membuktikan apa pun. Aku dicintai tanpa performa. Di rumah, aku diapresiasi dan diterima eksitensinya untuk setiap effort dan usaha kecil yang aku lakukan. Tapi setiap kali aku melangkah keluar dan masuk ke dunia luar, rasanya berbeda, rumah dan dunia luar seperti sebuah kontradiktif yang nyata, rasa aman, rasa tenang itu berubah menjadi ketakutan. Aku tetap mencoba bekerja dan berinteraksi dengan baik. Target tercapai. Gaji masuk. Bahkan secara finansial, hidupku stabil. Likuiditas yang ada sebenarnya cukup untuk beberapa tahun ke depan bahkan jika aku dan suamiku zero income. Namun entah kenapa, di luar rumah aku sering merasa seperti mengecil. Aku berbicara, tapi tidak ...

Setelah Panggung Usai: Sebuah Refleksi Tentang Rasa "Cukup"

Halo lagi, dari sudut mejaku yang paling pojok di kantor HAHA Tiga hari sudah berlalu sejak tirai panggung itu resmi ditutup—sebuah puncak dari persiapan panjang selama dua bulan. Misi sebagai ketua panitia akhirnya tuntas. Perasaan yang paling dominan saat ini? Lega. Sebuah kelegaan yang membalut seluruh tubuh saat akhirnya aku bisa kembali ke rumah, ke hening yang terasa begitu mewah setelah hiruk pikuk yang tak ada habisnya. Sambil melepas lelah, aku membiarkan pikiran berkelana. Merefleksikan semua yang terjadi. Aku merasa telah menjalankan tugasku sebaik mungkin, mengawal setiap detail yang terlihat maupun yang tersembunyi di balik layar. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak butuh pengakuan atas itu semua. Perkara dapat tepuk tangan atau tidak, rasanya doesn't matter anymore . Ada sebuah kepuasan batin yang membisikkan kata "cukup" . Cukup, karena aku tahu aku sudah memberikan yang terbaik. Perasaan ini terasa seperti sebuah pendewasaan, sebuah lompatan dari d...

Apakah Kebutuhan Eksistensi Itu Penting?

Kalau boleh jujur, dulu aku adalah tipe orang yang energinya datang dari validasi. Aku butuh dilihat, butuh didengar, dan butuh merasa menjadi pusat perhatian atau center of attention . Rasanya, nilai diriku baru terbukti kalau ada tepuk tangan dari orang lain, ada likes yang membanjiri postingan, atau namaku disebut-sebut dalam sebuah forum. Aku sibuk membangun panggungku sendiri dan memastikan lampu sorotnya selalu mengarah padaku. Dulu aku takut tidak didengar, dulu aku takut salah, dan dulu aku sangat takut tidak dilibatkan. Aku akan berusaha lebih keras, berbicara lebih lantang, dan melakukan apa saja agar eksistensiku diakui. Lelah? Tentu saja. Ada kekosongan yang aneh setiap kali tepuk tangan itu berhenti. Seolah-olah, aku harus terus berlari mencari pengakuan baru agar tidak merasa hampa. Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu dalam diriku berubah. Perlahan tapi pasti, aku tidak lagi merasakan urgensi itu. Dalam sebuah komunitas, organisasi, atau lingkungan pertemanan, rasa...

It's Just a Cruel World

Part 1: Cruel World Kadang aku ngerasa dunia ini terlalu kejam buat orang kayak aku. Bukan karena aku kurang berusaha. Bukan karena aku nyakitin orang. Tapi emang ada aja momen di mana aku mikir, “am I not enough just the way I am?” Aku tuh orangnya gak pandai ngomong. Aku gak jago nyeritain sesuatu dengan seru. Gak lucu. Gak bisa mencairkan suasana. Aku juga gak suka basa-basi cuma biar disukai. Dien dan ga asyik kali yaa hahaaa buat I’m just… me. Aku gak pernah bermaksud jahat ke siapa pun. Aku gak ngomongin orang. Aku gak cari muka. Aku ga suka menjilat ya gimana menjilat yaa basa basi aja ga bisa. Tapi ternyata, dunia ini lebih sering milih yang bisa tampil “ramah”, yang bisa nyambung sama siapa aja — walaupun kadang, semua itu cuma permukaan aja. They look warm, but behind the scenes? Who knows. Kadang aku mikir, kenapa ya orang-orang yang tampak paling ceria, paling mudah bergaul, justru yang sering ngomongin orang di belakang? Sedangkan aku yang banyak memilih diam dan “gak asyi...

How It Feels to Be Unchosen Quietly

Gambar
Ada masa di mana aku merasa semua baik-baik saja. Bahwa hubungan yang panjang itu cukup jadi alasan untuk tetap saling memahami, meski tak selalu beriringan. Aku terbiasa jadi yang lebih dulu. Lebih dulu bertanya, lebih dulu hadir, lebih dulu mengingat. Kupikir, itu bentuk sayang yang tak butuh imbalan. Karena ketika seseorang berarti, kita tak menghitung-hitung, bukan? Tapi pelan-pelan aku belajar, bahwa tidak semua hal yang kita beri waktu akan tumbuh. Ada yang memang dari awal tak ingin disiram. Ada yang memang memilih layu sejak lama, tapi kita terlalu sibuk berharap ia mekar kembali. Aku pernah diam, dengan harapan kamu membaca. Pernah menunggu, dengan keyakinan kamu akan datang. Pernah mengalah, bukan karena salah, tapi karena ingin menjaga. Kupikir, itu cukup. Tapi ternyata, diam tak selalu dimengerti. Menunggu tak selalu dihargai. Dan mengalah pun bisa jadi celah untuk dilupakan. Aku mulai sadar, bahwa mungkin aku yang terlalu ribut menjaga sesuatu yang kamu anggap biasa....

Confidence in Silence

Kadang, dunia melihat apa yang kutampilkan — bukan apa yang sebenarnya kurasakan. Hari-hari ini, aku berdiri di ruang yang mungkin terlihat mapan. Ada tanggung jawab, ada kepercayaan yang disematkan orang lain. Tapi di dalam diriku, tidak selalu seperti itu rasanya. Aku sering merasa seperti sedang mengenakan jaket kebesaran. Orang melihatku mampu, tapi aku sendiri kerap ragu. Tidak semua pertanyaan dalam kepala bisa kujawab dengan mantap. Tidak semua opini berani kusuarakan. Ada yang selalu menggantung — semacam rasa malu, atau takut dinilai, atau mungkin, luka lama yang belum selesai. Kalau ditanya dari mana datangnya semua keraguan itu, mungkin aku tak bisa memberi jawaban pasti. Tapi kalau kuurai perlahan… sepertinya aku mengerti. Aku tumbuh tanpa banyak pelukan. Bukan karena kehilangan, tapi karena jarak emosi yang terlalu dini dan terlalu dalam. Sejak kecil, aku belajar menahan diri — karena tidak tahu kepada siapa harus bicara. Dan dari situ, perlahan aku belajar untuk diam… t...

When the Timing Hurts, But the Dreams Still Live

  Ada masa di mana semuanya terasa menjanjikan. Aku menyusun ulang hidupku seperti merapikan buku-buku lama yang selama ini hanya disusun asal. Ada gairah untuk mulai lagi. Gairah yang datang bukan karena tekanan, tapi karena harapan. Harapan yang muncul dari keyakinan: bahwa waktuku untuk memulai hidup dengan ritme baru... sudah dekat. Aku bahkan sudah punya daftar kecil tentang hal-hal yang akan kulakukan: mendaftar kembali ke bangku kuliah, membangun koneksi dengan tubuhku lewat olahraga, memberi ruang untuk hal-hal personal yang selama ini hanya bisa kutunggu diam-diam. Aku percaya waktunya hampir tiba. Tapi yang datang justru... ketidakpastian. Sesuatu yang sebelumnya begitu meyakinkan, tiba-tiba menggantung di udara. Tidak datang. Tidak pergi. Tidak rusak. Tapi juga tidak jadi nyata. Dan aku yang sebelumnya penuh semangat, sekarang malah membisu dalam kecewa. Karena nyatanya, aku membangun ekspektasi yang terlalu indah. Ekspektasi yang tumbuh dalam diam, tapi menghancurka...

Pencapaian yang Tak Lagi Bermakna

Aku pernah berpikir bahwa pencapaian dalam hidup adalah tentang kebahagiaan. Tentang senyum bangga, pelukan hangat, dan banyaknya word of affirmations yang kudapatkan,  “Selamat, anakku tersayang, cintaku, harapanku, belahan jiwaku.”   Haha, dulu aku selalu dipanggil begitu— bucin banget ya, ibuku... Belum lagi deretan status WhatsApp yang mengutarakan kebanggaan, padahal pencapaian belum seberapa. Tapi hidup mengubah segalanya. Sejak Ibu pergi, arti pencapaian ikut terkikis bersama kepergiannya. Ibu selalu menjadi sosok yang paling mengapresiasi setiap usahaku, sekecil apa pun. Ia tak pernah setengah-setengah dalam mendukungku. Ibu adalah orang pertama yang percaya bahwa aku bisa, bahkan ketika aku sendiri ragu. Ia selalu hadir sepenuhnya—dengan pelukan, semangat, dan doa tanpa henti. Setiap pencapaian yang kuperoleh selalu disambutnya seolah itu adalah pencapaian terbesar di dunia. Aku ingat betul, di H-1 sebelum Ibu pergi untuk selamanya—saat beliau sedang kritis—aku baru...

Forever In My Heart, Ibu! - Part 1

Ibu... Hari ini, Amel kembali berada di rumah masa kecil kita. Di malam yang sendu ini, rumah itu mengingatkan Amel akan semua kenangan bersama ibu. Hampir setahun berlalu, dan kadang Amel masih merasa takut untuk membuka chat dan foto-foto kita yang dulu. It feels like something is missing without you, Ibu... Ibu, Amel sangat merindukan panggilan manja ibu yang selalu membuat Amel merasa spesial. Ibu yang selalu bangga, bahkan dengan pencapaian Amel yang mungkin tak seberapa. I miss that pride in your eyes, ibu. Amel kangen bangeeeetttt sama ibu, ga ada lagi deh yang banggain pencapaian-pencapaian kecil amel hahaa walaupun dulu suka lebay. No one do that sayangkuu! Ibu, maafkan Amel jika belum bisa menjadi yang terbaik untuk ibu. Amel ingin ibu hidup sehat lebih lama, tapi Amel tidak bisa menentang kehendak Allah, qadarullah yah bu... amel setiap hari belajar ikhlas. No one can replace you, sayang. No one will ever love me the way you did, Ibu. Sayangku, cintaku, harapanku, belahan ...

From Quiet to Commanding: My Struggle as an Introvert in a Corporate

Becoming a corporate secretary manager—it's something yang saya nggak pernah bayangkan sebelumnya. Sebagai seorang introvert, posisi ini terasa seperti tantangan besar yang harus saya hadapi dengan segala keterbatasan yang saya rasakan. Rasanya, dunia ini penuh dengan orang-orang yang selalu siap berbicara, berdiskusi, dan memimpin percakapan. Sementara saya, di sisi lain, sering kali lebih nyaman dalam keheningan, mendengarkan, dan merenung. Mungkin karena lingkungan dan pengalaman sebelumnya membentuk saya merasa selalu kurang dan minder. Saya merasa selalu dikelilingi orang yang hebat dan merasa masih kurang dari mereka. Mungkin banyak yang tidak tahu, di balik peran saya yang tampaknya penuh dengan interaksi, presentasi, dan komunikasi dengan banyak pihak, saya sedang berjuang untuk menjadi seseorang yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya: seorang ekstrovert. Sebagai seorang introvert, berbicara di depan publik adalah salah satu tantangan terbesar. Rasanya tubuh ini seola...

Kisah yang Tak Lagi Sempurna

Gambar
I never thought before, so many big things happened on 2024, especially February. I will never forget every details of February 2024. Februari diawali dengan ibuku yang kondisinya belum kunjung membaik atas luka diabetesnya, kondisi jantungnya pun semakin melemah, alhamdulillah setiap weekend aku coba luangkan waktu untuk pulang bersama suami. Ibu tampak gembira dan tersenyum setiap kita pulang, meskipun sakit ibu selalu perhatian sama aku dan suamiku. Setiap hari perawat datang untuk membersihkan luka ibu, rasa menahan sakit sambil memegang bantalnya duduk dan bahkan tidak bisa berbaring menahan sakitnya. YaAllah, mengetik dan membayangkan kembali momen beberapa bulan yang lalu yang masih teringat jelas dan terasa sangat menyayat hati. Tepat seminggu sebelum kepulangan ibu kami pulang saaat long weekend, masih ingat kami bercanda tawa dan membahas pilu, ibu tetap berusaha membaur dan bercanda dengan kami walaupun pasti sambil menahan rasa sakit. Lalu kami berpamitan pada ibu, dan memb...

An Introvert's Journey

Introvert? Apasih itu introvert? Introvert adalah kepribadian manusia yang lebih berkaitan dengan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. Jadi manusia yang memiliki sifat introvert ini lebih cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Orang introvert adalah tipe orang yang lebih suka sendirian di kamar daripada nongkrong sama temen . Buat kalian yang intovert, pernah ngga sih wondering gitu hina ngga sih as an introvert? Yaaa, karena aku sendiri seorang introvert dan sering banget pertanyaan itu muncul di pikiran huhuu Nah sekarang aku mau sedikit share yaa mengenai pengalaman aku sebagai seorang introvert #ceilaaahhh Ngga pedean, yaaps aku itu orangnya ngga pedeaan banget bahkan buat nyampein pendapat itu eh salah ngga yaa eh jangan-jangan orang bakal mikir macem-macem sama pendapat atau penampilan aku. Yaaa ngga pede yaaa terlalu mikirin what people going to say gitu even akhirnyaa aku...

Pengalaman Hidup di Merauke

Gambar
  Foto dokumentasi: Rumah Semut Merauke Gimana sih first impression kalian pas pertama kali denger kota Merauk e ? Hahaaa pasti jadi keingetan lagu dari Sabang Sampai Merauke ngga sih? Pokoknya entah itu dimana yaa paling ujung dari Indonesia lah yaa. Pernah bayangin ngga buat tinggal disanaa? Duh bayangin aja pasti udah ngeri yaa, daerah mana itu anta brataa kali yaaa... Nah setelah sekian lama mengumpulkan mood baru deh kesampaian nulis artikel ini hehe Iya jadi aku sempet tinggal di Merauke selama 6 bulaan, jangan tanya rasanya gimanaa, nanoo nanooo banget. Ceritanya dimulai dari 30 Maret 2018, iyaa jadi aku ketrima di salah satu BUMN yang bergerak di bidang transportasi tepatnya PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Indonesia Ferry (Persero). Gils, panjang banget yaaa namanya wkwk biasa disebut ASDP. Pasti kalian ngga tau ASDP ya? Ok deh gapapa, aku aja pas daftar gatau kok ini perusahaan apa haha tapi kalian pasti tau kan penyebrangan Jawa-Sumatera (Merak-Bakauhe...

Me!!!!!

Gambar
Hai everyone! This is my very first time to post something in this blog and before I tell many things about my life, my story, my journey, my experience etc. Let me introduce my self... Pardon my kind of words I choose hahaa sebenernya ga terlalu punya banyak pengalaman tentang menulis but gatau kenapa pengen share beberapa pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat wkwk Yaaa, namaku Amalia Rochmatina, biasa dipanggil Amel. What a common words for being an introduction! hahaaa okay lanjut aja yaaa, umur aku baru 20 tahun. Sekarang aku udah kerjaaa di salah satu perusahaan BUMN yaitu PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) sebagai staf umum ya biar kereen yaa general affair gitu yaaa :p Gue ngerasaaa di umur gue yang baru 20 tahun ini banyak banget yang Allah kasih.... eeeettt kok jadi 'gue' yaaa hahaa yaudahlah yaa emang aku ga jago nulis yaa bahasa juga acakadut wkwk Yups, Allah kasih banyak pengalaman baik yang membahagiakan ataupun menyedihkan hiiiksss tapi aku selalu percaya ...