Postingan

Di Antara Rumah dan Dunia: Perjalanan Mencari Utuh

Di rumah, aku hidup. Aku bisa tertawa tanpa memikirkan apakah aku terdengar cerdas. Aku bisa diam tanpa takut dianggap tidak kompeten. Aku merasa cukup hanya dengan menjadi istri, menemani, melayani, berbagi cerita kecil tentang hari yang sederhana dan memberikan dukung untuk suamiku. Di rumah, aku tidak merasa harus membuktikan apa pun. Aku dicintai tanpa performa. Di rumah, aku diapresiasi dan diterima eksitensinya untuk setiap effort dan usaha kecil yang aku lakukan. Tapi setiap kali aku melangkah keluar dan masuk ke dunia luar, rasanya berbeda, rumah dan dunia luar seperti sebuah kontradiktif yang nyata, rasa aman, rasa tenang itu berubah menjadi ketakutan. Aku tetap mencoba bekerja dan berinteraksi dengan baik. Target tercapai. Gaji masuk. Bahkan secara finansial, hidupku stabil. Likuiditas yang ada sebenarnya cukup untuk beberapa tahun ke depan bahkan jika aku dan suamiku zero income. Namun entah kenapa, di luar rumah aku sering merasa seperti mengecil. Aku berbicara, tapi tidak ...

#7th Country Philippines - Manila si Kembaran Jakarta!

Gambar
Negara ke #7 — Philippines. Negara selanjutnya yang aku unlocked aku pilih Philippines. Kenapa Philippines? Simple aja karena dengan transit Manila harga tiket untuk negara lanjutanku lebih murah! Jadi... sekali mendayung 2 keuntungan ku dapatkan: unlocked new country daan tiket pesawat yang lebih murah... heheee Aku stay sekitar dua hari saja di manila tapi efektif explore hanya 1 hari 1 malam karena keesokan harinya aku harus flight lagi ke negara selanjutnya. Perjalanan yang super singkat — jadi jujur aku nggak punya ekspektasi apa-apa selain “ya sudah yang penting nambah negara”. Jujur nambah negara baru yang aku kunjungi dan explore itu ada kepuasan tersendiri buat budak corporate sepertiku yang jatah cutinya terbatas, libur terbatas, budgetpun terbatas haha namun tetep pengen keliling duniaa. Ya namanya juga bermimpi yaaa, makanya pelan-pelan aku ingin mewujudkan mimpiku dengan langkah-langkah kecilku.  Aku terbang dari Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, untuk international f...

Setelah Panggung Usai: Sebuah Refleksi Tentang Rasa "Cukup"

Halo lagi, dari sudut mejaku yang paling pojok di kantor HAHA Tiga hari sudah berlalu sejak tirai panggung itu resmi ditutup—sebuah puncak dari persiapan panjang selama dua bulan. Misi sebagai ketua panitia akhirnya tuntas. Perasaan yang paling dominan saat ini? Lega. Sebuah kelegaan yang membalut seluruh tubuh saat akhirnya aku bisa kembali ke rumah, ke hening yang terasa begitu mewah setelah hiruk pikuk yang tak ada habisnya. Sambil melepas lelah, aku membiarkan pikiran berkelana. Merefleksikan semua yang terjadi. Aku merasa telah menjalankan tugasku sebaik mungkin, mengawal setiap detail yang terlihat maupun yang tersembunyi di balik layar. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak butuh pengakuan atas itu semua. Perkara dapat tepuk tangan atau tidak, rasanya doesn't matter anymore . Ada sebuah kepuasan batin yang membisikkan kata "cukup" . Cukup, karena aku tahu aku sudah memberikan yang terbaik. Perasaan ini terasa seperti sebuah pendewasaan, sebuah lompatan dari d...

Apakah Kebutuhan Eksistensi Itu Penting?

Kalau boleh jujur, dulu aku adalah tipe orang yang energinya datang dari validasi. Aku butuh dilihat, butuh didengar, dan butuh merasa menjadi pusat perhatian atau center of attention . Rasanya, nilai diriku baru terbukti kalau ada tepuk tangan dari orang lain, ada likes yang membanjiri postingan, atau namaku disebut-sebut dalam sebuah forum. Aku sibuk membangun panggungku sendiri dan memastikan lampu sorotnya selalu mengarah padaku. Dulu aku takut tidak didengar, dulu aku takut salah, dan dulu aku sangat takut tidak dilibatkan. Aku akan berusaha lebih keras, berbicara lebih lantang, dan melakukan apa saja agar eksistensiku diakui. Lelah? Tentu saja. Ada kekosongan yang aneh setiap kali tepuk tangan itu berhenti. Seolah-olah, aku harus terus berlari mencari pengakuan baru agar tidak merasa hampa. Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu dalam diriku berubah. Perlahan tapi pasti, aku tidak lagi merasakan urgensi itu. Dalam sebuah komunitas, organisasi, atau lingkungan pertemanan, rasa...

It's Just a Cruel World

Part 1: Cruel World Kadang aku ngerasa dunia ini terlalu kejam buat orang kayak aku. Bukan karena aku kurang berusaha. Bukan karena aku nyakitin orang. Tapi emang ada aja momen di mana aku mikir, “am I not enough just the way I am?” Aku tuh orangnya gak pandai ngomong. Aku gak jago nyeritain sesuatu dengan seru. Gak lucu. Gak bisa mencairkan suasana. Aku juga gak suka basa-basi cuma biar disukai. Dien dan ga asyik kali yaa hahaaa buat I’m just… me. Aku gak pernah bermaksud jahat ke siapa pun. Aku gak ngomongin orang. Aku gak cari muka. Aku ga suka menjilat ya gimana menjilat yaa basa basi aja ga bisa. Tapi ternyata, dunia ini lebih sering milih yang bisa tampil “ramah”, yang bisa nyambung sama siapa aja — walaupun kadang, semua itu cuma permukaan aja. They look warm, but behind the scenes? Who knows. Kadang aku mikir, kenapa ya orang-orang yang tampak paling ceria, paling mudah bergaul, justru yang sering ngomongin orang di belakang? Sedangkan aku yang banyak memilih diam dan “gak asyi...

5th Country - Turki | Perjalanan Seru Turki & Georgia Berakhir di Istanbul

Gambar
Trip kali ini adalah rangkaian terakhir dari perjalanan kami menjelajah dua negara yang luar biasa, yaitu Turki dan Georgia. Dimulai dari Cappadocia, Ankara, lalu pindah negara ke Georgia di kota Tbilisi dan Kazbegi, hingga akhirnya di hari-hari terakhir kami mengeksplor Istanbul. Kalau biasanya di Tbilisi aku kemana-mana naik Bolt, di Istanbul aku berusaha berhemat. Ternyata walaupun Georgia terletak di Eropa, biaya hidup di sana jauh lebih murah dibanding Turki. Karena inflasi yang tinggi di Turki, nilai mata uang Lira turun drastis dan harga barang melonjak — membuat pengeluaran di Turki jadi cukup mahal. Setibanya di Bandara Sabiha Gökçen , aku langsung mencari transportasi umum, yaitu bus Havaist dengan harga sekitar 300 Lira per orang dari bandara ke pusat kota. Jelas lebih murah dibanding naik taksi yang tentu sangat mahal. Aku turun di halte bus dekat Point Hotel Taksim. Karena koper kami cukup banyak setelah trip dua negara, kami melanjutkan naik BiTaksi (taksi online di Tu...

How It Feels to Be Unchosen Quietly

Gambar
Ada masa di mana aku merasa semua baik-baik saja. Bahwa hubungan yang panjang itu cukup jadi alasan untuk tetap saling memahami, meski tak selalu beriringan. Aku terbiasa jadi yang lebih dulu. Lebih dulu bertanya, lebih dulu hadir, lebih dulu mengingat. Kupikir, itu bentuk sayang yang tak butuh imbalan. Karena ketika seseorang berarti, kita tak menghitung-hitung, bukan? Tapi pelan-pelan aku belajar, bahwa tidak semua hal yang kita beri waktu akan tumbuh. Ada yang memang dari awal tak ingin disiram. Ada yang memang memilih layu sejak lama, tapi kita terlalu sibuk berharap ia mekar kembali. Aku pernah diam, dengan harapan kamu membaca. Pernah menunggu, dengan keyakinan kamu akan datang. Pernah mengalah, bukan karena salah, tapi karena ingin menjaga. Kupikir, itu cukup. Tapi ternyata, diam tak selalu dimengerti. Menunggu tak selalu dihargai. Dan mengalah pun bisa jadi celah untuk dilupakan. Aku mulai sadar, bahwa mungkin aku yang terlalu ribut menjaga sesuatu yang kamu anggap biasa....

Confidence in Silence

Kadang, dunia melihat apa yang kutampilkan — bukan apa yang sebenarnya kurasakan. Hari-hari ini, aku berdiri di ruang yang mungkin terlihat mapan. Ada tanggung jawab, ada kepercayaan yang disematkan orang lain. Tapi di dalam diriku, tidak selalu seperti itu rasanya. Aku sering merasa seperti sedang mengenakan jaket kebesaran. Orang melihatku mampu, tapi aku sendiri kerap ragu. Tidak semua pertanyaan dalam kepala bisa kujawab dengan mantap. Tidak semua opini berani kusuarakan. Ada yang selalu menggantung — semacam rasa malu, atau takut dinilai, atau mungkin, luka lama yang belum selesai. Kalau ditanya dari mana datangnya semua keraguan itu, mungkin aku tak bisa memberi jawaban pasti. Tapi kalau kuurai perlahan… sepertinya aku mengerti. Aku tumbuh tanpa banyak pelukan. Bukan karena kehilangan, tapi karena jarak emosi yang terlalu dini dan terlalu dalam. Sejak kecil, aku belajar menahan diri — karena tidak tahu kepada siapa harus bicara. Dan dari situ, perlahan aku belajar untuk diam… t...