When the Timing Hurts, But the Dreams Still Live
Ada masa di mana semuanya terasa menjanjikan. Aku menyusun ulang hidupku seperti merapikan buku-buku lama yang selama ini hanya disusun asal. Ada gairah untuk mulai lagi. Gairah yang datang bukan karena tekanan, tapi karena harapan. Harapan yang muncul dari keyakinan: bahwa waktuku untuk memulai hidup dengan ritme baru... sudah dekat. Aku bahkan sudah punya daftar kecil tentang hal-hal yang akan kulakukan: mendaftar kembali ke bangku kuliah, membangun koneksi dengan tubuhku lewat olahraga, memberi ruang untuk hal-hal personal yang selama ini hanya bisa kutunggu diam-diam. Aku percaya waktunya hampir tiba. Tapi yang datang justru... ketidakpastian. Sesuatu yang sebelumnya begitu meyakinkan, tiba-tiba menggantung di udara. Tidak datang. Tidak pergi. Tidak rusak. Tapi juga tidak jadi nyata. Dan aku yang sebelumnya penuh semangat, sekarang malah membisu dalam kecewa. Karena nyatanya, aku membangun ekspektasi yang terlalu indah. Ekspektasi yang tumbuh dalam diam, tapi menghancurka...