Postingan

Apakah Kebutuhan Eksistensi Itu Penting?

Kalau boleh jujur, dulu aku adalah tipe orang yang energinya datang dari validasi. Aku butuh dilihat, butuh didengar, dan butuh merasa menjadi pusat perhatian atau center of attention . Rasanya, nilai diriku baru terbukti kalau ada tepuk tangan dari orang lain, ada likes yang membanjiri postingan, atau namaku disebut-sebut dalam sebuah forum. Aku sibuk membangun panggungku sendiri dan memastikan lampu sorotnya selalu mengarah padaku. Dulu aku takut tidak didengar, dulu aku takut salah, dan dulu aku sangat takut tidak dilibatkan. Aku akan berusaha lebih keras, berbicara lebih lantang, dan melakukan apa saja agar eksistensiku diakui. Lelah? Tentu saja. Ada kekosongan yang aneh setiap kali tepuk tangan itu berhenti. Seolah-olah, aku harus terus berlari mencari pengakuan baru agar tidak merasa hampa. Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu dalam diriku berubah. Perlahan tapi pasti, aku tidak lagi merasakan urgensi itu. Dalam sebuah komunitas, organisasi, atau lingkungan pertemanan, rasa...

It's Just a Cruel World

Part 1: Cruel World Kadang aku ngerasa dunia ini terlalu kejam buat orang kayak aku. Bukan karena aku kurang berusaha. Bukan karena aku nyakitin orang. Tapi emang ada aja momen di mana aku mikir, “am I not enough just the way I am?” Aku tuh orangnya gak pandai ngomong. Aku gak jago nyeritain sesuatu dengan seru. Gak lucu. Gak bisa mencairkan suasana. Aku juga gak suka basa-basi cuma biar disukai. Dien dan ga asyik kali yaa hahaaa buat I’m just… me. Aku gak pernah bermaksud jahat ke siapa pun. Aku gak ngomongin orang. Aku gak cari muka. Aku ga suka menjilat ya gimana menjilat yaa basa basi aja ga bisa. Tapi ternyata, dunia ini lebih sering milih yang bisa tampil “ramah”, yang bisa nyambung sama siapa aja — walaupun kadang, semua itu cuma permukaan aja. They look warm, but behind the scenes? Who knows. Kadang aku mikir, kenapa ya orang-orang yang tampak paling ceria, paling mudah bergaul, justru yang sering ngomongin orang di belakang? Sedangkan aku yang banyak memilih diam dan “gak asyi...

5th Country - Turki | Perjalanan Seru Turki & Georgia Berakhir di Istanbul

Gambar
Trip kali ini adalah rangkaian terakhir dari perjalanan kami menjelajah dua negara yang luar biasa, yaitu Turki dan Georgia. Dimulai dari Cappadocia, Ankara, lalu pindah negara ke Georgia di kota Tbilisi dan Kazbegi, hingga akhirnya di hari-hari terakhir kami mengeksplor Istanbul. Kalau biasanya di Tbilisi aku kemana-mana naik Bolt, di Istanbul aku berusaha berhemat. Ternyata walaupun Georgia terletak di Eropa, biaya hidup di sana jauh lebih murah dibanding Turki. Karena inflasi yang tinggi di Turki, nilai mata uang Lira turun drastis dan harga barang melonjak — membuat pengeluaran di Turki jadi cukup mahal. Setibanya di Bandara Sabiha Gökçen , aku langsung mencari transportasi umum, yaitu bus Havaist dengan harga sekitar 300 Lira per orang dari bandara ke pusat kota. Jelas lebih murah dibanding naik taksi yang tentu sangat mahal. Aku turun di halte bus dekat Point Hotel Taksim. Karena koper kami cukup banyak setelah trip dua negara, kami melanjutkan naik BiTaksi (taksi online di Tu...

How It Feels to Be Unchosen Quietly

Gambar
Ada masa di mana aku merasa semua baik-baik saja. Bahwa hubungan yang panjang itu cukup jadi alasan untuk tetap saling memahami, meski tak selalu beriringan. Aku terbiasa jadi yang lebih dulu. Lebih dulu bertanya, lebih dulu hadir, lebih dulu mengingat. Kupikir, itu bentuk sayang yang tak butuh imbalan. Karena ketika seseorang berarti, kita tak menghitung-hitung, bukan? Tapi pelan-pelan aku belajar, bahwa tidak semua hal yang kita beri waktu akan tumbuh. Ada yang memang dari awal tak ingin disiram. Ada yang memang memilih layu sejak lama, tapi kita terlalu sibuk berharap ia mekar kembali. Aku pernah diam, dengan harapan kamu membaca. Pernah menunggu, dengan keyakinan kamu akan datang. Pernah mengalah, bukan karena salah, tapi karena ingin menjaga. Kupikir, itu cukup. Tapi ternyata, diam tak selalu dimengerti. Menunggu tak selalu dihargai. Dan mengalah pun bisa jadi celah untuk dilupakan. Aku mulai sadar, bahwa mungkin aku yang terlalu ribut menjaga sesuatu yang kamu anggap biasa....

Confidence in Silence

Kadang, dunia melihat apa yang kutampilkan — bukan apa yang sebenarnya kurasakan. Hari-hari ini, aku berdiri di ruang yang mungkin terlihat mapan. Ada tanggung jawab, ada kepercayaan yang disematkan orang lain. Tapi di dalam diriku, tidak selalu seperti itu rasanya. Aku sering merasa seperti sedang mengenakan jaket kebesaran. Orang melihatku mampu, tapi aku sendiri kerap ragu. Tidak semua pertanyaan dalam kepala bisa kujawab dengan mantap. Tidak semua opini berani kusuarakan. Ada yang selalu menggantung — semacam rasa malu, atau takut dinilai, atau mungkin, luka lama yang belum selesai. Kalau ditanya dari mana datangnya semua keraguan itu, mungkin aku tak bisa memberi jawaban pasti. Tapi kalau kuurai perlahan… sepertinya aku mengerti. Aku tumbuh tanpa banyak pelukan. Bukan karena kehilangan, tapi karena jarak emosi yang terlalu dini dan terlalu dalam. Sejak kecil, aku belajar menahan diri — karena tidak tahu kepada siapa harus bicara. Dan dari situ, perlahan aku belajar untuk diam… t...

When the Timing Hurts, But the Dreams Still Live

  Ada masa di mana semuanya terasa menjanjikan. Aku menyusun ulang hidupku seperti merapikan buku-buku lama yang selama ini hanya disusun asal. Ada gairah untuk mulai lagi. Gairah yang datang bukan karena tekanan, tapi karena harapan. Harapan yang muncul dari keyakinan: bahwa waktuku untuk memulai hidup dengan ritme baru... sudah dekat. Aku bahkan sudah punya daftar kecil tentang hal-hal yang akan kulakukan: mendaftar kembali ke bangku kuliah, membangun koneksi dengan tubuhku lewat olahraga, memberi ruang untuk hal-hal personal yang selama ini hanya bisa kutunggu diam-diam. Aku percaya waktunya hampir tiba. Tapi yang datang justru... ketidakpastian. Sesuatu yang sebelumnya begitu meyakinkan, tiba-tiba menggantung di udara. Tidak datang. Tidak pergi. Tidak rusak. Tapi juga tidak jadi nyata. Dan aku yang sebelumnya penuh semangat, sekarang malah membisu dalam kecewa. Karena nyatanya, aku membangun ekspektasi yang terlalu indah. Ekspektasi yang tumbuh dalam diam, tapi menghancurka...

Pencapaian yang Tak Lagi Bermakna

Aku pernah berpikir bahwa pencapaian dalam hidup adalah tentang kebahagiaan. Tentang senyum bangga, pelukan hangat, dan banyaknya word of affirmations yang kudapatkan,  “Selamat, anakku tersayang, cintaku, harapanku, belahan jiwaku.”   Haha, dulu aku selalu dipanggil begitu— bucin banget ya, ibuku... Belum lagi deretan status WhatsApp yang mengutarakan kebanggaan, padahal pencapaian belum seberapa. Tapi hidup mengubah segalanya. Sejak Ibu pergi, arti pencapaian ikut terkikis bersama kepergiannya. Ibu selalu menjadi sosok yang paling mengapresiasi setiap usahaku, sekecil apa pun. Ia tak pernah setengah-setengah dalam mendukungku. Ibu adalah orang pertama yang percaya bahwa aku bisa, bahkan ketika aku sendiri ragu. Ia selalu hadir sepenuhnya—dengan pelukan, semangat, dan doa tanpa henti. Setiap pencapaian yang kuperoleh selalu disambutnya seolah itu adalah pencapaian terbesar di dunia. Aku ingat betul, di H-1 sebelum Ibu pergi untuk selamanya—saat beliau sedang kritis—aku baru...

5th Country - Turki (Eps. Cappadocia)

Gambar
Winter trip kali ini tuh bener-bener berkesan banget. Alhamdulillah, aku berkesempatan buat mengunjungi dua destinasi impianku. Ya, trip kali ini terasa spesial karena aku dan suami menjelajahi dua negara sekaligus: Turki dan Georgia. Dari dulu aku udah pengen banget pengen lihat balon udara di Cappadocia —itu kayak mimpi yang udah lama aku simpan, dan akhirnya Allah kasih jalan buat mewujudkannya. 😭✨ Kenapa Georgia? Karena korban tiktok! haha pokoknya alasan dan keseruannya ada di artikel sebelumnya haha maaf yaa acak bisa dilihat disini  6th Country - GEORGIA TRIP (Eps. Kazbegi)  dan  6th Country - GEORGIA TRIP (Eps. Tbilisi)  💡🌿 Aku dan suami berangkat dari Jakarta dengan penerbangan Emirates, transit dulu di Dubai, baru lanjut ke Istanbul. Senangnya lagi, kami dapet harga tiket PP Jakarta–Istanbul cuma 7,6 juta per orang, full service Emirates! 😍 Rezeki banget ga sih dapat harga segini. Tapi Istanbul bukan tujuan pertama kami. Kami memilih untuk langsung...